Sekoteng, minuman tradisional yang memiliki khasiat dan kehangatan yang khas, sehingga saya memberi label khusus untuk menonjolkan keistimewaannya. Harapannya sederhana: sekoteng dikenal lebih luas dan mendapatkan tempat setara dengan minuman lain di pasaran. Namun realitasnya berbeda; di lapak penjualan justru didominasi oleh minuman kekinian yang digemari remaja kampus, sementara minuman tradisional lain seperti teh talua yang pernah memenangkan lomba provinsi 2024 malah lebih menarik perhatian pelanggan.
Pasar di kawasan kampus memang unik dan menantang: dominasi peka terhadap tren membuat produk yang “viral” atau berlabel modern lebih cepat laku. Sekoteng, dengan segala manfaatnya, kalah saing terhadap visual, kemasan, dan selera generasi muda yang mencari pengalaman baru. Sedangkan keberhasilan teh talua di ajang provinsi menunjukkan bahwa prestise bisa membantu, tapi tidak selalu cukup mengubah preferensi konsumen lokal yang dipengaruhi gaya hidup dan musim akademik.
